oleh

Kota ini Melarang Menjual Follower Palsu

LENTERA TEKNO — Para pengguna media sosial yang memuja banyaknya tanda suka dan follower hingga rela membeli pengikut palsu harus berhati-hati. Hukum di New York lewat jaksa Letitia James menegaskan aksi jual beli pengikut, tanda suka, dan views di berbagai platform media sosial termasuk YouTube adalah ilegal.

Devumi menjual pengikut palsu, dan suka melalui bot yang dioperasikan komputer dan dari akun ‘sock-puppet’ atau akun yang sebenarnya menyamar sebagai orang lain. Devumi menggunakan akun palsu yang menyalin gambar, dan profil pengguna nyata, tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.

Ini menandai pertama kalinya sebuah lembaga penegak hukum menyatakan bahwa menjual perjanjian semacam itu ilegal, dan menggunakan identitas yang dicuri untuk melakukannya.

“Bot dan akun palsu lainnya telah merajalela di platform media sosial, sering kali mencuri identitas orang sungguhan untuk melakukan penipuan,” kata James dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman Hollywood Reporter, Jumat, 1 Februari 2019.

James melanjutkan, ketika orang dan perusahaan seperti Devumi terus menghasilkan uang dengan berbohong kepada orang yang jujur, kantornya akan terus menemukan, dan menghentikan siapa pun yang menjual penipuan daring. Dengan penyelesaian ini, James dan tim mengirim pesan yang jelas bahwa siapa pun yang mendapat untung dari penipuan, dan peniruan adalah pelanggaran hukum, serta akan dimintai pertanggungjawaban.

Devumi juga telah menjual dukungan dari influencer media sosial tanpa mengungkapkan bahwa mereka telah dibayar, yang bertentangan dengan aturan Komisi Perdagangan Federal. Pakar hukum periklanan, Jeffrey Greenbaum, mengatakan putusan tersebut mengirimkan peringatan yang jelas kepada perusahaan, dan individu yang menghasilkan uang dari media sosial.

“Merek dan influencer yang menggunakan agensi untuk membantu meningkatkan keterlibatan media sosial mereka tidak bisa lagi menutup mata ke tempat asal suka dan pengikut mereka. Mereka akan perlu memastikan bahwa suka dan pengikut mereka nyata. Penyelesaian ini menempatkan posisi inovatif, bahwa ‘suka’ dan ‘mengikuti’ adalah dukungan yang sebenarnya,” ungkap Jeffrey.

Sumber: Republika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News